Thursday, September 20, 2012

School-based curriculum evaluation: Some caveats

The Education and Culture Ministry’s decision to evaluate the current school-based curriculum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) used in elementary, junior and senior high schools should be commended.

First, as far as curriculum theory is concerned, evaluation is a vital component that cannot be excluded in any educational system. Evaluation reflects an attempt to discover drawbacks in the implementation of a curriculum as well as to sustain quality assurance.

In other words, it is sort of an a posteriori validation of the merits and demerits of the present curriculum. Through a rigorous, systematic and well-prepared evaluation, the efficacy of the contents of the curriculum can be untangled and the extent to which they meet the instructional objectives can be revealed.

The classroom is like a microcosm of society that is dynamic and mutable, and is always in a constant state of change. The corollary of this is that predetermined contents of the curriculum cannot always be capable of catering to the evolving needs of their users, most notably students and teachers.

Curriculum evaluation is thus indubitably called for in order to reduce or minimize any possible gaps created by classroom dynamics.

It should be highlighted that curriculum evaluation presupposes changes (either minor or major) that can eventually lead to the unveiling of new curriculum. It is at this juncture that problems can potentially arise.

Unless shrewdly managed, curriculum evaluation can pave the way for curriculum change, which will likely create more problems, and stymie efforts to improve old curriculum.

In fact, Education and Culture Minister Mohammad Nuh has recently hinted that it is likely that the results from the ongoing curriculum evaluation could be taken as recommendations for a curriculum revamp and change. But, some caveats are in order.

In retrospect, the alterations of school mandated curriculum created only incessant public tumults, with students, parents and teachers becoming the victims of these curriculum changes.

The criticism made against changes to every newly introduced curriculum by the Education and Culture Ministry is a waste and does not have any significant effects on the improvement of educational practices in the country.

Instead, confusion builds in respect to how the new curriculum can be successfully implemented in the classroom with a heterogeneous number of students abounded among teachers.

Furthermore, the psychological burdens teachers have to endure to adjust themselves with the mandated curriculum, not to mention with the textbooks (consequence of the curriculum change) they use are so tremendous that in the end, they often feel fed up and frustrated. As a result, teaching is seen as a banal and tedious activity.

Beset with too much pressure in carrying out their daily routines, teachers often have no choice but to succumb to submissive attitudes. Their role as experienced professionals is eventually vitiated.

However, if curriculum change is seen as a dialogic process which encourages continuous negotiations, teachers have reasons to provide critical feedbacks regarding the implementation of the new curriculum. Without a doubt, teachers are the key players in determining the success and failure of the implementation of new curriculum.

The central role of teachers has been acknowledged by H.H. Stern (1983), who argues that, “The finest and most up-to-date curriculum ideas can be vitiated if they are imposed upon the teachers concerned without having made sure that the changes the new curriculum demands are understood by them (p. 442)”.

The lessons learned from previous fiascos in curriculum evaluations and changes are evaluations and changes that should not be done hastily and in a haphazard way. Furthermore, the inclusion of concerned parties including teachers in the evaluation is paramount.

Curriculum evaluation should be done systematically in the sense that it is carried out with clear rationales, explicit problem formulations, a sounding methodology and explicit report findings. Without any one of these elements, evaluation is doomed for failure.

No less important, the shift of orientation from the top-down approach to the bottom-up is also necessary to ensure the involvement of those who are directly affected by the evaluation results.

If the goal of curriculum evaluation is intended for the improvement of curricular contents to reflect the pressing needs of students, then a thorough evaluation from the bottom-up is likely to yield more fruitful results as opposed to when it is carried out from top-down.

3 Manfaat Investasi Bagi Masa Depan

BERITASATU.COM - Dengan investasi, Anda akan bisa mengambil langkah antisipatif jika tiba-tiba ada hal tak terduga datang menjadi tembok penghalang mimpi
Anda pasti memiliki rencana-rencana dalam hidup ini. Bukan hanya rencana jangka pendek seperti akan memakai celana warna apa esok hari atau akan makan pasta saat malam hari, tapi juga rencana jangka panjang seperti kuliah S2 di umur 23 tahun, kemudian menikah dan memiliki anak sebelum umur 27 tahun.
Jika Anda pikir rencana-rencana tersebut mudah direalisasikan, keep going with it! Hanya saja, agar rencana tersebut bisa berjalan dengan lancar, Anda pun harus menyiapkan sejumlah rencana pendukung. Dengan begitu, Anda akan bisa mengambil langkah antisipatif jika tiba-tiba ada hal tak terduga datang menjadi tembok penghalang mimpi.
Ya, Anda pastinya sering bertemu masalah yang datang tanpa diundang. Masalah pun seringkali datang saat Anda lengah dan kurang waspada. Seperti kecelakaan, sakit, dan masalah-masalah lainnya. Akhirnya, rencana yang sudah Anda susun pun jadi terganggu.
Lalu bagaimanakah caranya Anda bisa berdamai dengan masalah-masalah yang sering muncul secara tiba-tiba? Salah satu solusinya adalah dengan mulai menabung atau berinvestasi sehingga bisa menyokong Anda secara finansial ketika hal tak terduga datang menghampiri.
Selain dapat bantu meringankan beban saat hal-hal tidak terduga datang, investasi pun dapat memberikan berbagai manfaat seperti:
1. Mendorong untuk Hidup Hemat
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan manfaat dari investasi seperti asuransi jiwa. Ketika mendaftarkan diri ke program asuransi jiwa, maka Anda perlu membayarkan premi yang sesuai dengan nominal yang telah disepakati sebelumnya.
Membayar premi memang terkesan membebani biaya hidup sehari-hari yang harus dipotong secara rutin. Namun, jika dilihat dari sisi lain, membayarkan premi adalah salah satu cara agar Anda bisa memiliki a brighter life di kemudian hari. Seperti peribahasa di atas, kita baru akan menikmati hasilnya kemudian.
2. Menjamin Kebahagiaan Keluarga Anda
Kini, membahagiakan keluarga menjadi prioritas utama dalam hidup Anda. Membayarkan iuran sekolah anak dan mengajak mereka liburan bersama pasangan ke tempat favorit juga menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Namun, Anda harus sehat agar bisa mewujudkan rencana tersebut. Apalagi, a brighter life bukan lagi hanya untuk saat ini dan diri sendiri, tapi sudah melibatkan keluarga dan masa depan mereka.
Namun, seperti yang kita ketahui, hal-hal tak terduga seperti penyakit kerap datang secara tiba-tiba bersamaan dengan keharusan membayar iuran sekolah anak dan mengajak berlibur ke tempat favorit. Karena itulah, menginvestasikan dana untuk mengikuti program asuransi jiwa dan asuransi pendidikan merupakan tindakan yang tepat untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.
3. Menghindari Jerat Utang
Godaan untuk bersifat konsumtif memang sulit dihindarkan. Apalagi hasrat untuk memiliki gadget seri terbaru, membeli barang-barang branded, hingga membeli tiket pesawat beserta hotel dan paket tur liburan ke tempat favorit semakin menggebu.
Mungkin, menggunakan kartu kredit bisa menjadi salah satu solusi memuaskan hasrat konsumtif tersebut. Tinggal gesek, apa yang Anda inginkan pun sudah bisa dimiliki. Namun sayang, saking seringnya menggesek, Anda pun terkadang jadi sering lepas kontrol.
Akhirnya, pada bulan berikutnya – tepatnya saat tagihan datang, Anda pun jadi kebingungan mencari cara membayar tagihan kartu kredit yang jauh melampaui kemampuan finansial saat itu.
Berbagai gagasan pun muncul. Mulai dari meminjam uang di bankhingga sanak keluarga. Padahal, jika sebelumnya sudah menginvestasikan sebagian dari pendapatan Anda secara rutin tiap bulan dalam bentuk tabungan atau asuransi, investasi tersebut pun dapat digunakan untuk mengatasi masalah satu ini.
Selain mafaat diatas, apa sajakah manfaat berinvestasi lainnya menurut Anda?

Bus Masuk Jurang, Sembilan Orang Tewas

Liputan6.com, Lampung Barat: Sembilan orang meninggal dunia akibat mini bus masuk jurang di Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Km 320 di Lemong, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, Jumat.

Kasatlantas Polres Lampung Barat (Lambar), Iptu Ikrar Potawari mengatakan, mini bus bernomor polisi E-7586 Y yang dikemudikan Ono Wartono (34), diduga sempat hilang kendali, sehingga masuk jurang di Jalinbar, sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Kecelakaan tunggal ini terjadi Jumat, pukul 10.00 WIB di Jalinbar Km 320 TNBBS wilayah Lemong, Lambar. Mini bus travel Jurusan Kotaagung (Lampung)-Bengkulu disopiri Ono Wartono, warga Desa Sukamaju, Kuningan itu mengangkut penumpang 18 orang, beserta dua orang sopir.

Saat menurun di jalan yang dilalui, menjadi hilang kendali, sehingga terperosok masuk ke jurang sebelah kiri arah Bengkulu. Kecelakaan ini mengakibatkan sembilan penumpang, termasuk awak kendaraannya tewas di tempat kejadian, enam korban lainnya luka berat, dan lima luka ringan.

Korban tewas adalah Ono Wartono (sopir), Abdul (40), Kuswara (60), Kusra (50), Tasrudin (50), Sobarudin (40), Wahidin (45), Solihin (58), dan Kunang (70).

Sedangkan korban luka berat, antara lain satu orang warga Brebes Jateng, Taswad (23), Carsok (32), dan Basar (40), juga warga Cikakak. Korban luka ringan adalah Sukar (32), Otong (34), Maulana (27), Zainudin (17), dan Nendi (22), juga warga Cikakak

Para korban luka-luka itu dibawa ke RSU Kaur, Bintuhan, Provinsi Bengkulu, karena merupakan RS terdekat dengan lokasi kejadian yang sudah mendekati perbatasan Bengkulu. Korban tewas dibawa ke Puskesmas Nasal, Kaur, sambil menunggu keluarganya menjemput. (Ant)

6 Fakta Unik dan Menarik Jokowi

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan Jokowi-Ahok unggul di Pilgub DKI putaran kedua. Jokowi akan memimpin Jakarta lima tahun mendatang.
Kemenangan Jokowi cukup menarik untuk dicermati. Sebab, selama ini dia selalu menampilkan sosok ndeso dan sederhana kepada warga Jakarta.
Selain itu, masih banyak hal menarik yang dimiliki Wali Kota Surakarta itu. Soal pacaran, soal makanan favorit, soal mobil, begitu juga soal cincin kawin. Berikut lima fakta menarik Jokowi.
1. Gudeg
Pria dengan nama lengkap Joko Widodo ini biasa memesankan menu gudeg untuk para tamu yang menemuinya. Gudeg itu biasa dipesannya dari sebuah warung makan milik Lies Rosmiyati (perempuan asli Solo).
Di warung itu, harga satu porsi gudeg paling mahal Rp 70 ribu dan paling murah Rp 9 ribu. Warung makan itu berdiri empat tahun setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
2. Tiga mobil
Nama Jokowi menjadi sorotan di Tanah Air saat ia mendukung keberhasilan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo dalam merakit mobil yang diberi nama Esemka. Jokowi bahkan menggunakan mobil Esemka sebagai mobil dinasnya dengan nomor polisi AD 1 A.
Namun, selain memiliki mobil Esemka, Jokowi juga memiliki dua unit mobil pribadi, yakni Mercedes Benz berwarna merah tahun 1995 dan Grand Livina hitam.
3. Cincin kawin Rp 24 Ribu
Setahun setelah lulus kuliah, Jokowi dan Iriana berjanji sehidup semati di depan penghulu tepat sehari menjelang perayaan Natal 1986. Saat itu Jokowi memberikan cincin kawin seharga Rp 24 ribu.
"Iya cincin ini," kata Jokowi seraya menunjukkan cincin emas di jari manis kirinya.
Pasangan ini memiliki resep jitu untuk menghindari cekcok berakhir ke perceraian. Menurut Jokowi, pasangan suami-istri harus saling mengerti, memahami, dan komunikatif.
4. Empat tahun Pacaran
Jokowi dan Iriana pertama kali bertemu saat Jokowi masih duduk di semester tiga Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Sementara, saat itu Iriana masih duduk di kelas tiga SMA.
Keduanya berkenalan lantaran Iriana teman adik Jokowi. Keduanya menikah setelah empat tahun berpacaran.
Keduanya merupakan pasangan suami istri yang harmonis. Salah satu contoh keharmonisannya adalah saat keduanya kerap berseloroh dan saling lempar guyonan.
Jika Jokowi tertawa lepas, Iriana meledek, "Bapakmu lagi kumat."
5. Tidur dini hari demi warga
Sejak masih menjadi lajang, Jokowi sudah terbiasa begadang. Karenanya, jarang tidur sudah menjadi hal biasa bagi pria berusia 51 tahun ini.
Kebiasaan itu terus berlanjut selama tujuh tahun dia menjabat sebagai wali kota Solo. Jokowi rela begadang untuk menyelesaikan tugasnya sebagai wali kota.
Dia bahkan tidak jemu menerima telepon walau sudah mengantuk. Dia memiliki prinsip harus selalu siaga menjawab panggilan telepon dari warga atau wartawan, yang dinilai sebagai pengontrol kebijakannya.
6. Setia dengan Samsung SGH-S366
Meski menjadi orang nomor satu di Solo, Jokowi tak mau seperti pejabat lain yang biasa gonta-ganti handphone. Padahal dengan kekayaan sekitar Rp 18 miliar yang dimilikinya, menganti handphone lama dengan yang terbaru adalah hal mudah.
Hingga saat ini, Jokowi masih setia dengan handphone usang miliknya, yakni Samsung SGH-S366.
[tts]

Pilgub Lampung: Tahun 2013 atau 2015?

REPUBLIKA.CO.ID,BANDAR LAMPUNG – Penyelenggaraan pemilihan umum gubernur (pilgub) Lampung masih memicu kontroversi. Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, menyatakan pilgub tetap ditunda hingga tahun 2015, sementara KPU Lampung mengotot pilgub digelar tahun 2013 sebelum pemilu 2014.

Menurut Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, penundaan pilgub terkait dengan pelaksaan pemilihan anggota legislatif (pemilu) dan pemilihan presiden (pilpres) tahun 2014, sementara masa jabatan dirinya periode kedua berakhir bulan 2 Juni 2014. “Sebaiknya pilgub ditunda hingga 2015 bersama pilkada kabupaten/kota di Lampung, karena banyak pertimbangannya,” kata Sjachroedin kepada Republika di Bandar Lampung, Ahad (2/9).

Gubernur menjelaskan pertimbangan penundaan pilgub hingga 2015, pertama, dirinya telah berakhir masa jabatannya dan digantikan dengan penjabat gubernur. Menurutnya, penjabat gubernur memberikan peluang pelaksanaan pilgub berjalan tanpa intervensi.

Kedua, penyelenggaraan pilgub dapat dilaksanakan secara bersama/serempak dengan delapan kabupaten/kota di Provinsi Lampung. “Jadi nanti 2015 ada delapan pilkada kabupaten/kota ditambah satu pilgub, tentu menghemat anggara pilkada terutama untuk pilgub,” ujarnya.

Ketiga, bila pilgub dan pilkada berlangsung serempak maka kesempatan calon kepala daerah akan lebih terfokus pada masing-masing kabupaten, kota, dan provinsi. “Ini sangat menguntungkan bagi masyarakat, karena bakal calon kepala daerah, hanya bisa memilih mencalonkan pilkada mana, tidak dapat semuanya,” tegasnya.

Sedangkan KPU Lampung tetap berusaha menyelenggarakan pilgub Lampung dipercepat pada 2013, setahun sebelum masa jabatan gubernur berakhir. Dalam rapat pleno Jumat (31/8), KPU memutuskan tetap menggelar pilgub pada 2 Oktober 2013, dan bila terjadi dua putaran maka digelar 4 Desember 2013.

Ketua KPU Lampung, Nanang Trenggono, mengatakan dasar hukum penyelenggaraan pilgub Lampung dipercepat adalah surat KPU Pusat yang meminta KPU Lampung menggelar pilgub paling lambat Oktober 2013.

Selain itu, pada Pasal 86 Undang Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Isinya, pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat satu bulan sebelum masa jabatan berakhir.

Landasan hukum lainnya, UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilu. Isinya, lembaga yang berwenang menyusun dan melaksanakan tahapan pilkada. KPU akan berkoordinasi dengan gubernur Lampung untuk menyusun anggaran pilgub yang rasional dan transparan dan akan dikonsultasikan kepada DPRD Lampung.

Gubernur Sjachroedin, menyatakan pada tahun 2012 ini, pihaknya belum membahas anggaran pilgub. “ Saat ini masih konsentrasi melanjutkan pembangunan di Lampung, belum membicarakan anggaran pilgub,” katanya. Bila pihak eksekutif belum membahas anggaran pilgub, kemungkinan anggaran biaya miliaran pelaksanaan pilgub Lampung dipercepat tahun 2013, tak terealisasi.